Bagaimanakah mekanisme Pengelolaan Asuransi Syariah?


Bagaimanakah mekanisme Pengelolaan Asuransi Syariah?
Mekanisme pengelolaan asuransi syariah tentu tidak sama dengan asuransi konvensional, Pada asuransi syariah, untuk produk-produk yang mengandung unsur tabungan, dana yang dibayarkan oleh peserta eksklusif dibagi dalam dua rekening yaitu rekening peserta dan rekening tabarru’. Kemudian total dana yang diinvestasikan, dibagi secara proposional antara peserta dengan perusahaan (pengeloa), berdasarkan skim bagi hasil yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan untuk dana tabarru’ yang diinvestasikan, tidak ada bagi hasil baik untuk peserta maupun perusahaan. Perusahaan hanya memperoleh fee sebagai imbalan atas pengelolaan dana tersebut. 
Adapun prosedur pengelolaan dana asuransi konvensional tidak ada pemisahan antara dana penerima dengan dana tabarru’. Semua dana bercampur menjadi satu dan status dana tersebut yaitu dana perusahaan.perusahaan bebas mengelola dan menginvestasikan dana tersebut kemana saja tanpa pembatasan halal atau haram (Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah, Konsep dan Sistem Operaional, Jakarta: Gema Insani, 2004, hlm. 304-305).

Mekanisme pengelolaan asuransi syariah umum diawali oleh terjadinya komitmen atau transaksi antara perusahaan asuransi dengan penerima asuransi. sehabis komitmen berlangsung, maka dalam asuransi syariah umum diatur berdasarkan aturan sebagai berikut:
  1. penerima dapat terdiri dari perorangan, perusahaan, forum/yayasan/badan aturan, atau yang lainnya.
  2. Perjanjian kerjasama antara perusahaan asuransi dan penerima asuransi syariah umum dilakukan berdasarkan prinsip mudharobah.
  3. Besarnya nominal premi tergantung dari jenis asuransi yang dipilih. Setoran premi dilakukan sekaligus pada awal kontrak dibentuk. Jangka waktu pertanggungan yaitu satu tahun, dan harus diperbarui bila kontrak hendak diperpanjang untuk tahun berikutnya.
  4. Premi asuransi dikumpulkan dalam satu kumpulan dana yang kemudian diinvestasikan dalam proyek atau pembiayaan lainnya sejalan dengan syariah.
  5. keuntungan dari investasi akan dikreditkan ke dalam kumpulan dana penerima.
  6. kurunu terjadi musibah atas harta benda penerima yang diasuransikan, maka perusahaan asuransi membayarkan ganti rugi kepada penerima tersebut dengan dana yang diambil dari kumpulan dana peserta asuransi syariah umum.
  7. Biaya-biaya yang dibutuhkan oleh perusahaan asuransi diambil dari kumpulan dana akseptor. bila masih terdapat terdapat kelebihan dana akan dibayarkan kepada penerima dan perusahaan asuransi berdasarkan prinsip mudharabah.
Menurut Soemitra, tahapan proses yang dilalui dalam mekanisme pengelolaan asuransi syariah sanggup diuraikan berikut ini:

1. Underwriting

Underwriting yaitu proses penafsiran jangka hidup seorang calon peserta yang dikaitkan dengan besarnya risiko untuk menentukan besarnya premi. Atau dengan kata lain, merupakan proses seleksi yang dilakukan oleh perusahaan asuransi jiwa untuk menentukan tingkat risiko yang akan diterima dan menentukan besarnya premi yang akan dibayarnya. Underwriting asuransi syariah bertujuan mengatakan skema pembagian risiko yang proporsional dan adil diantara para akseptor yang secararelatif homogen. Dalam melaksanakan proses penerimaan risiko (underwriting) terdapat tiga konsep penting yang menjadi dasar bagi perusahaan asuransi untuk mendapat atau menolak suatu penutupan risiko. Pertama, kemungkinan menderita kerugian, kondisi ini diramalkan berdasarkan apa yang terjadi dimasa kemudian. Kedua, tingkat risiko, yaitu ketidakpastian akan kerugian pada era yang akan tiba. Ketiga, aturan bilangan besar (the law of large numbers) dimana makin banyak objek yang mempunyai risiko yang sama atau hampir sama, akan makin bertambah baik bagi perusahaan lantaran penyebaran risiko akan makin luas dan kemungkinan menderita kerugian sanggup secara sistematis diramalkan.

Mempertimbangkan risiko yang diajukan proses seleksi yang dilakukan oleh underwriting dipengaruhi oleh faktor usia, kondisi fisik atau kesehatan, jenis pekerjaan, budbahasa dan kebiasaan, besarnya nilai pertanggungan, dan jenis kelamin.
  1. memutuskan mendapat atau tidak risiko-risiko tersebut.
  2. menentukan syarat, ketentuan dan lingkup ganti rugi termasuk memastikan peserta membayar premi sesuai dengan tingkat risiko, tetapkan besarnya jumlah pertanggungan, lamanya waktu asuransi sesuai dengan tingkat risiko penerima.
  3. Mengenakan biaya upah (ijarah/fee) pada dana donasi akseptor.
  4. Mengamankan profit margin dan menjaga biar perusahaan asuransi tidak rugi.
  5. Menjaga kestabilan dana yang terhimpun supaya perusahaan sanggup berkembang.
  6. Menghindari anti seleksi.
  7. Underwriting juga harus memperhatikan pasar kompetetif yang ada dalam ketentuan tarif, penyebaran risiko dan volume, dan hasil survei.
2. Polis

Polis asuransi ialah surat perjanjian antara pihak yang menjadi peserta asuransi dengan perusahaan asuransi. Ada lima unsur yang harus ada dalam poli, yaitu:
  1. Deklarasi, memuat data yang berkaitan dengan peserta.
  2. Perjanjian asuransi, memuat pernyataan perusahaan asuransi menyatakan kesanggupannya mengganti kerugian atas objek asuransi apabila terjadi kerusakan.
  3. Persyaratan polis, memuat kondisi objek, batas waktu pembayaran premi, seruan peniadaan polis, mekanisme pengajuan klaim, asuransi ganda, subrogasi.
  4. Pengecualian, memuat penyebutan dengan jelas petaka apa saja yang tidak ditutup atau di luar penutupan asuransi.
  5. Polis ditandatangani oleh perusahaan asuransi.
3. Premi (kontribusi)

Premi ialah sejumlah uang yang harus dibayarkan setiap bulannya sebagian dari tertanggung atas keikut sertaannya di asuransi. Besarnya premi atas keikutsetaan di asuransi yang harus dibayarkan telah ditetapkan oleh perusahaan asuransi dengan memperhatikan keadaan-keadaan dari tertanggung.

Premi dalam asuransi syariah umumnya ada tiga serpihan, yaitu:
  • Premi tabungan adalah cuilan premi yang merupakan dana tabungan pemegang polis yang dikelola oleh perusahaan dimana pemiliknya akan menerima hak sesuai dengan kesepakatan dari pendapatan investasi higienis. Premi tabungan dan hak bagi hasil investasi akan diberikan kepada penerima bila yang bersangkutan berhenti sebagai peserta.
  • Premi tabarru’ yaitu sejumlah dana yang dihibahkan oleh pemegang polis dan dipakai untuk tolong menolong dalam menaggulangi petaka kematian yang akan disantunkan kepada andal waris bila penerima meninggal dunia sebelum masa asuransi berakhir.
  • Premi biaya yaitu sejumlah dana yang dibayarkan oleh peserta kepada perusahaan yang digunakan untuk membiayai operasional perusahaan dalam rangkapengelolaan dana asuransi, termasuk biaya awal, biaya lanjutan, biaya tahun berjalan, dan biaya yang dikeluarkan pada dikala polis berakhir. 
Penetapan tarif premi asuransi kerugian, perhitungan jumlah premi yang akan mensugesti dana klaim tergantung pada beberapa hal, antara lain:
  1. Penetapan tarif premi harus dilakukan dengan memperhitungkan: (a) Premi murni dihitung berdasarkan profil kerugian untuk jenis asuransi yang bersangkutan sekurang-kurangnya 5 tahun terakhir, (b) Biaya perolehan, termasuk komisi biro, (c) Biaya manajemen dan biaya umum lainnya.
  2. Tarif premi harus ditetapkan pada tingkat yang mencukupi, tidak melebihi dan tidak menetapkan secara diskriminatif. Demikian pula tidak boleh terlalu berlebihan sehingga tidak sebanding dengan manfaat yang dijanjikan. Pada asuransi jiwa, perhitungan jumlah premi yang akan menghipnotis dana klaim tergantung pada beberapa faktor yaitu (a) Jenis produk asuransi yang ditawarkan, (b) Lamanya kurun asuransi, (c) Usia peserta, (d) Kesehatan penerima, dan (e) Jumlah penerima.
4. Pengelolaan dana asuransi (premi)

Operasional pengelolaan dana asuransi syariah, perusahaan diberi keyakinan untuk mengelola premi, mengembangkannya dengan Tutorial yang halal dan mengatakan perlindungan kepada peserta yang mengalami petaka sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Perjanjian tersebut sanggup dilakukan dengan akad mudharabah, musyarakah, atau wakalah bil ujrah.

Pada kesepakatan mudharabah, keuntungan perusahaan asuransi syariah diperoleh dari potongan keuntungan dana dari investasi, yang dikembangkan dengan prinsip sistem bagi hasil. Para peserta asuransi syariah berkedudukan sebagian pemilik modal dan perusahaan asuransi syariah berfungsi sebagai pihak yang menjalankan modal. keuntungan yang diperoleh dari pengembangan dana itu dibagi antara para penerima dan perusahaan sesuai ketentuan yang telah disepakati.

Pada kesepakatan musyarakah, perusahaan asuransi bertindak sebagai mudharib yang menyertakan modal atau dananya dalam investasi bersama dana penerima lain. Perusahaan dan penerima berhak memperoleh bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh dari investasi. Dan pada janji wakalah bil ujrah, perusahaan berhak mendapat fee sesuai dengan kesepakatan. Para penerima memberikan kuasa kepada perusahaan untuk mengelola dananya dalam hal, kegitaan manajemen, pengelolaandana, pembayaran klaim, underwriting, pengelolaan portofolio resik, pemasaran dan investasi.

Mekanisme pengelolaan dana peserta (premi) dibagi menjadi dua. Pertama, ditinjau berdasarkan ada atau tidaknya unsur tabungan dan Kedua, ditinjau dari pemikiran dana dalam asuransi syariah.

a. Ditinjau dari Unsur Tabungan

Sistem yang mengandung unsur tabungan setiap penerima wajib membayar sejumlah uang (premi) secara teratur pada perusahaan yang besarnya tergantung kepada kemampuan penerima. Namun, perusahaan menetapkan jumlah minimum dari premi yang harus dibayar penerima. Dan setiap premi yang dibayar akan dipisahkan oleh perusahaan dalam 2 rekening yang berbeda:
  1. Rekening tabungan, yaitu kumpulan dana yang merupakan milik penerima, yang dibayarkan bila, perjanjian berakhir, penerima mengundurkan diri, dan penerima meninggal dunia.
  2. Rekening tabarru’ yaitu kumpulan dana yang diniatkan oleh peserta sebagai iuran kebajikan untuk tujuan saling tolong menolong dan saling membantu, yang dibayar bila, peserta meninggal dunia dan perjanjian telah berakhir (jika ada surplus dana).
Kumpulan dari dana premi ini akan diinvestasikan oleh perusahaan asuransi sesuai dengan prinsip syariah. Dan hasil keuntungan inilah yang akan dibagi antarapengelola dan pemilik modal, yaitu perusahaan dan penerima sehabis dikurangi dengan beban asuransi.

b. Ditinjau dari anutan Dana pada Asuransi Syariah

Pada asuransi syariah semua premi yang masuk merupakan dana peserta sehabis dikurangi dengan fee perusahaan atas jasa pengelolaan dana premi. Dalam pengelolaan dana (investasi), baik dana tabarru’ maupun saving, dapat digunakan komitmen wakalah bil ujrah, komitmen mudharabah dan musyarakah. saat terjadi klaim perusahaan tidak mengeluarkan dana apapun dari kas perusahaan lantaran penggantian klaim diambil dari dana tabungan tabarru’. Surplus underwriter dan keuntungan investasi juga dibagikan kepada penerima yang tidak klaim dan kepada perusahaan asuransi dengan besaran presentase tertentu sesuai nisbah yang telah disepakati oleh perusahaan dan peserta diawal perjanjian.

5. Klaim

Klaim ialah hak peserta asuransi yang wajib diberikan oleh perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam komitmen. Ketentuan klaim dalam asuransi syariah yaitu:
  1. Klaim dibayarkan berdasarkan komitmen yang disepakati pada awal perjanjian.
  2. Klaim mampu berbeda dalam jumlah, sesuai dengan premi yang dibayarkan.
  3. Klaim atas komitmen tijarah sepenuhnya merupakan hak peserta, dan merupakan kewajiban perusahaan untuk memenuhinya.
  4. Klaim atas komitmen tabarru’ merupakan hak akseptor dan merupakan kewajiban perusahaan, sebatas yang disepakati dalam janji.
6. Penutupan Asuransi

Penutupan asuransi ialah berakhirnya perjanjian asuransi. Penyebab berakhirnya perjanjian asuransi mampu disebabkan oleh dua hal, yaitu:
  1. Perjanjian berakhir secara masuk akal lantaran masa berlakunya sudah berakhir sebagaimana perjanjian semula.
  2. Perjanjian berakhir secara tidak masuk kebijaksanaan lantaran dibatalkan oleh salah satu pihak walau masa berlaku perjanjian belum berakhir.
Demikianlah klarifikasi mekanisme pengelolaan asuransi syariah dari awal akad sampai berakhirnya perjanjian asuransi. Masing-masing penutupan asuransi baik yang masuk akal maupun tidak masuk kebijaksanaan mempunyai konsekuensi, sesuai dengan klausal janji diawal yang sudah sama-sama disepakati oleh para pihak. Baca juga: Daftar 10 Besar Asuransi Terbaik di Indonesia dan Dasar aturan Asuransi Syariah.