Pengertian Asuransi menurut Para jago dan Sifat Perjanjiannya



Pengertian Asuransi berdasarkan Para jago dan Sifat Perjanjiannya
Pengertian Asuransi – berdasarkan para andal saya sajikan berikut ini dengan terlebih dahulu menelaah pengertian asuransi sebagaimana tercantum di dalam Buku Kesatu bagian IX Pasal 246 Kitab Undang-undang aturan Dagang (KUHD) ialah sebagai berikut: Asuransi atau pertanggungan ialah suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk menberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan laba yang dibutuhkan, yang mungkin akan dideritanya lantaran suatu bencana yang tidak tentu.

Definisi yang lebih luas lagi dari pada definisi pasal 246 KUHD adalah definisi pasal 1 angka(1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 wacana usaha Perasuransian menyatakan bahwa : Asuransi atau pertanggungan itu beliaulah perjanjian antara kedua belah pihak atau lebihdengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima suatu premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung lantaran kerugi an, kerusakan atau kehilangan laba yang dibutuhkan, atau tanggungjawab aturan kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita pihak tertanggung, yang timbul dari tragedi yang tidak niscaya, atau untuk menyampaikan suatu pembayaran yangdidasarkan atas meninggalnya atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Kiranya hal ini sudah merupakan suatu pengertian yang lazim, seakan-akan sejumlah pengertian asuransi berdasarkan para mahir berikut ini:
  1. James L Athearn, dalam bukunya Risk and Insurance mengatakan bahwa asuransi itu yaitu satu institute yang direncanakan guna menangani resiko.
  2. Robert I. Nehr dan Emerson Cammack juga mengatakan bahwa suatu pemindahan resiko itu lazim disebut sebagai asuransi.
  3. David L. Bickelhaupt, dalam bukunya General Insurance juga menyampaikan bahwa : Fondasi dari suatu asuransi itu tidak lain dialah kasus resiko.
  4. D.S Hansell, menyatakan dengan tegas bahwa asuransi selalu bekerjasama dengan resiko (Insuranceis to do with risk)
(Dikutip dari: Sri Redjeki Hartono, Asuransi dan aturan Asuransi di Indonesia, Semarang: IKIP Semarang Press,1985, hal 12)

Bila ditelaah lebih lanjut pengertian asuransi dalam pasal 246 KUHD, hanya mencakup bidang asuransi kerugian tidak termasuk dalam asuransi jiwa, lantaran KUHD memandang jiwa insan bukanlah harta kekayaan. Berbeda dengan pengertian asuransi jiwa menurut pasal 1 angka 1 Undang-undang No 2 Tahun 1992 perihal usaha Perasuransian kecuali asuransi kerugian ( loss insurance) juga meliputi asuransi jiwa (life insurance). Hal itu terlihat jelas pada rumusan kata-kata : “…atau untuk mengatakan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggalnya atauhidupnya seseorang untuk yang dipertanggungjawabkan”. Walaupun begitu rumusan asuransi dari pasal 246 KUHD berlaku secara umum.

Dari definisi-definisi yang diberikan wacana asuransi tersebut di atas diketahui bahwa inti dari tujuan suatu asuransi adalah mengalihkan risiko dari tertanggung yang memiliki kepentingan terhadap obyek asuransi kepada penanggung yang timbul sebagai akhir adanya bahaya bahaya terhadap harta kekayaan atau terhadap jiwanya.

Sifat-Sifat Perjanjian Asuransi

Sifat-sifat perjanjian asuransi berdasarkan batasan dari pasal 246 KUHD, yaitu sebagaimana yang admin kutip berikut ini:
  1. Perjanjian Asuransi pada dasarnya beliaulah suatu perjanjian penggantian kerugian (shcadevezekering atau indemnitets contract ). Penanggung mengikatkan diri untuk menggantikan kerugian lantaran pihak tertanggung menderita kerugian dan yang diganti itu adalah seimbang dengan kerugian yang sungguh-sungguh diderita (prinsip indemnitas).
  2. Perjanjian asuransi ialah perjanjian yang bersyarat. Kewajiban mengganti rugi dari penanggung hanya dilaksanakan jika bencanayang tidak tertentu atas mana beliaudakan pertanggungan itu terjadi.
  3. Perjanjian asuransi beliaulah perjanjian timbal balik. Kewajiban penanggung mengganti rugi dibutuhkan dengan kewajibana tertanggung membayar premi.
  4. Kerugian yang diderita ialah sebagai jawaban dari tragedi yang tidak tertentu atas nama diadakan pertanggungan.
(Sumber: Sri Redjeki Hartono, hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi, Jakarta: Sinar Grafika, 2001, hal 84)

Diluar sifat yang terkandung dalam pasal 246 KUHD, ada beberapa sifat lain yang beliautur oleh beberapa pasal dalam KUHD, yaitu:
  1. Bahwa perjanjian asuransi itu beliaulah suatu perjanjian konsensual yang berarti sanggup iadakan hanya berdasarkan kata sepakat antara para pihak-pihak.
  2. Bahwa dalam perjanjian asuransi itu unsur “utmost good faith” memegang peranan penting sekali. Unsur utmost good faith yang dengan kata lain mampu disebut dengan itikad baik yang sebenar-benarnya, merupakan asas dari semua perjanjian.
  3. Bahwa di dalam perjanjian asuransi itu pada tertanggung harus melekat sifat sebagai orang yang mempunyai kepentingan (interest) atas tragedi yang tidak tentu artinya sebagai akibat dari tragedi itu beliau sanggup menderita kerugian.
Demikian pengertian asuransi berdasarkan para mahir dan pengertian yang mengacu pada Kitab Undang-Undang aturan Dagang (KUHD). Dan telah diuraikan pula beberapa sifat-sifat perjanjian asuransi untuk menambah pengetahuan para pembaca terutama yang mendalami disiplin ilmu asuransi.(Baca pula: Daftar 10 Besar Asuransi Terbaik di Indonesia dan Perkembangan Asuransi Syariah di Indonesia)